Jumat, 01 Januari 2010

Tanah Kami 5 Hari Setelah Tsunami dan 5 Tahun Setelah Tsunami

Bagi keluarga kami, kehilangan yang kami rasakan mungkin tidak sebanding dengan kehilangan yang dirasakan oleh lebih banyak lagi orang di Aceh ketika tsunami menghancurkan kehidupan ini. Meski kehilangan harta, tapi kami tak kehilangan orang-orang tercinta. Lamjame adalah tanah dimana ayah mendirikan rumah impian kami sejak kecil. Kampung ini hancur tak bersisa, bahkan seluruh tetanggaku tak bisa menyelamatkan dirinya.

Pulang kembali ke Lamjame adalah pikiran panjang selama bertahun-tahun. Kami harus mengalahkan rasa takut kami pada ancaman bencana lagi, dan tentu saja rasa sepi mencekam termasuk rasa takut pada segala macam hantu belau.

Dan dengan mengucap Bismillah, kami mencoba mendirikan kembali gubuk tempat berteduh kami. Ini rezeki kami yang diberikan Allah. Kami mensyukurinya. Paling tidak kami diberi kesempatan masih bisa menyambung nafas kami di sini. Di tanah terakhir yang masih kami miliki.






Lamjame 5 tahun setelah tsunami









Lamjame 5 hari setelah tsunami











Sisa tanah impian kami





Mereka yang selamat mencoba mencari keluarga yang hilang







Aku di antara yang tersisa

PUISI TAK PANTAS

Harusnya aku tidak menulis puisi di blog ini karena aku bukan penulis fiksi. Tapi ku pikir panjang, puisi-puisi ini sayang kalau dibuang. Puisi ini lahir dari hati yang galau, yang resah karena aku tak bisa menggapai keinginanku. Ini masa-masa sulit hidupku, ketika aku coba bangkit dari kehancuran hidup. Puisi ini adalah fakta atas apa yang terjadi terhadap hidupku. Maka aku pun menerbitkannya di blog sebagai peringatan ku terhadap apa yang pernah aku alami semasa hidupku.

TIAP HARI AKU SEMAKIN MENCINTA

Aku tidak pernah tahu
Tapi aku percaya
Sesuatu di hatiku menjadi bergetar
Hangat mengalir ke seluruh pembuluh darah
Sesuatu yang terbaik ada di situ
Engkau yang menyebabkan itu

Aku punya mimpi untuk ku pertunjukan pada mu
Sesuatu yang engkau perbuat bagi hatiku
Aku menemukan mu di waktu terbaikku
Dan kini
Setiap hari aku merasa semakin mencintaimu

Sampai akhir perjalanan cintamu
Aku percaya
Kita akan tetap sehati sejiwa
Cintamu tetap terbaik yang pernah aku miliki


BAYANGAN

Yang tak bisa dijamah
Makin menghilang
Perlahan
Bagai kabut
Menipis
Dan hilang tak kembali

Mauku mengumpulkannya
Membentuk sebuah siluet bayangan
Yang bisa aku peluk tiap malam
Yang bisa menyejukkan dan menentramkan hati

Saat semua terwujud
Ku tahu
Itu tak abadi
Aku mencarinya ke sudut-sudut yang tak mungkin

Aku sudah melakukannya semua
Demi mempertahankan mu
Tapi tetap saja
Semua hilang tak berbekas


Lamjame, 4 Februari 2010

BUMIKU SAKIT

Bumiku makin keriput
Menciut seperti buah busuk
Mengering
Ketika akar-akar pohon tercerabut dari kulitnya
Sakit sekali
Dan dia menjerit
Adooowwwww...

Air tak lagi mengikuti siklus alami
Hujan yang tak bisa lagi diharapkan
Angin semakin tak jelas arah
Udara tak lagi segar

Bumiku sakit
Dan dia mungkin akan mati perlahan
Tanpa bisa kita hidupkan lagi
Untuk kelangsungan nafas kita para penghuni bumi


Lamjame, 20 Januari 2010

KU KAN TERUS CINTA

Meski kau diam saja
Ku kan terus mencinta
Diam, tak bersuara
Ini rahasia hati sampai aku mati


(inspirasi dari Lagu "Selir Hati" ciptaan Ahmad Dhani, 17 Januari 2010)

KETIKA AKU MERINDUKANMU

Lama rasanya tidak merasakan indahnya senyum mu
Bahkan aku tak bisa menghapal lagi bau tubuh mu
Sudah begitu lamakah itu?
Ketika engkau direnggut kejam dari sisiku

Andai aku bisa menghidupkan kembali dirimu
Aku akan menghiasi mu dengan keindahan dunia ini
Menghabiskan apapun yang bisa kita rengguk bersama
Sampai kamu tak mampu berpikir apapun tentang yang lain selain aku

Aku masih mempunyai hati untuk mu
Hati yang abadi dan akan tetap ku persembahkan untuk mu

Wahai kekasih yang tak berwujud
Engkau bagai bayang putih dan tak bisa ku sentuh
Dan malam ini engkau akan ku hadirkan dalam bentuk nyata
Agar aku tahu engkau memang ada

Ketika engkau direnggut oleh waktu
Engkau dicabut dari kehidupanku
Aku tak bisa mempertahankan mimpiku
Untuk memilikimu selamanya

Dan sebuah pengakuanku kini
Betapa aku merindukan mu selamanya


Lamjame, 3 Januari 2010

PENCARI JALAN TUHAN

Seperti apakah jalan Tuhan itu?
Apakah ia bersih, suci, putih?

Aku hitam, penuh jelaga
Aku kotor, najis tak berharga

Bisakah aku memasuki jalan Mu?
Bisakah aku mendapatkan cahaya di ujung jalan itu?
Bisakah kotoran di tubuhku berontokan satu persatu
Kepalaku tertunduk menyembunyikan wajah hitamku
Aku tak mampu
Aku malu

Banda Aceh, 1 Januari 2010

MALAIKATKU

Di sisiku malaikat
Apakah dia mendoakan aku selalu?
Apakah dia juga melindungiku dari kejahatan?

Malaikatku apakah dia bersayap?
Apakah dia akan membawaku terbang?
Jauh ke sebuah tempat di surga
Di mana aku menemukan cinta abadiku


Banda Aceh, 1 Januari 2010

AMPUNKAN AKU

Jalanku putih, abu-abu, hitam
Jalanku landai, terjal dan menurun

Aku hina
Aku tak pantas
Aku terkutuk

Bersih
Terang
Engkau Tuhanku
Bimbing aku ke arah itu

Mandikan aku dengan air suci Mu
Membasuh najis tak terhingga di dalam tubuhku


Banda Aceh, 1 Januari 2010

MENAPAKI SISA WAKTU

Berkebut dengan waktu
Mengejar sisa kehidupan yang ada
Aku seperti melihat ujung dunia di sana

Tuhanku
Engkau yang mengatur semua rencana dalam hidupku
Engkau juga yang menarik kehidupanku seperti sebuah pedati
Berjalan pelan
Aku terseok

Tuhanku
Usiaku tinggal berapa lagi?
Aku tidak tahu
Tapi beri aku kesempatan
Untuk bahagia dan membahagiakan orang-orang sekitarku
Keluargaku, sahabatku, siapun itu
Dan jika memungkinkan
Beri aku juga kesempatan
Memberikan kasih abadiku
Kepada orang yang pantas mendapatkannya


Banda Aceh, 1 Januari 2010

LILINKU

Beri aku api meski itu tidak mampu menghangatkan udara dingin
Beri aku cahaya meski itu samar
Beri aku batangmu meski itu akan mencair habis
Beri aku sumbu meski itu akan terbakar tak bersisa

Apimu, cahayamu
Adalah penuntunku mencari jalan keluar
Dari lubang gelap tak berujung

Engkau akan habis di masamu yang singkat
Dan akhirnya aku tak bisa menyelamatkan keabadianmu untukku
Dan engkau akan musnah tak bersisa tanpa aku bisa mengembalikanmu
Dan aku akan meratapimu karena aku kehilanganmu selamanya


Banda Aceh,1 Januari 2010

CINTAKU

Aku punya cinta yang luar biasa
Aku punya kasih yang tak terhingga
Aku punya pengabdian seorang hamba sahaya
Aku punya kesetiaan abadi
Aku punya hati yang ku simpan dalam raga

Aku akan mencintai Mu dengan caraku
Karena aku percaya Engkau memang untukku
Aku telah memilih Mu untuk seumur hidupku
Memberikan pengabdian seorang kekasih


Lamjame, 1 Januari 2010

SEBUAH PERKARA PENUH RAHASIA

Dalam suatu waktu, kamu akan bertemu dengan cinta sejatimu.
Dia akan datang bersama dengan perjalanan waktu
Ketika engkau mencari harapan itu
Dia sebenarnya ada di suatu ruang yang mudah dijangkau

Tuhan merahasiakan empat perkara dari mu
Langkahmu, cintamu, rezekimu dan matimu
Ketika Dia mengatakan kunfayakun
Menciptakan mu di zaman azali
Menghidupkan rohmu dalam kandung ibumu
Maka setiap nafasmu ada dalam genggaman-Nya

Semua rahasia hidup ada pada Tuhan
Kamu hanya bisa berharap dan bermimpi
Kamu hanya bisa berupaya menjangkaunya
Tapi tangan Tuhan yang paling berkuasa menuntunmu

Mencari celah mengintip apa rencana Tuhan dalam hidup ini
Dan aku samar-samar melihatnya
Tapi benar-benar tak terjangkau


Banda Aceh, 28 Desember 2009

SEKEPING HATIKU

Ini kepingan hati ku yang tersisa
Yang telah tercabik oleh kesia-siaan.
Tapi masih ada ruang tersisa
Dan itu ku berikan padamu wahai yang menantiku

Sekeping hati ini mungkin tak akan berguna bagimu
Tapi aku tetap membutuhkan itu untuk kelanjutan nafasku
Aku menunggunya untuk disentuh
Dan ku harap engkau itu

Jika engkau datang dengan sebatang lilin redup
Aku akan tetap berterima kasih padamu
Itu cukup menghangatkan kebekuan udara sekelilingku
Meski ku tahu tak akan kau berikan selamanya

Sekeping hati terakhir ini ku harap inilah cinta sejatiku.

Banda Aceh, 23 Desember 2009.

Senin, 28 Desember 2009

Aku pada 26 Desember 2004

26 Desember 2004

Aku selalu merasa gelisah ketika ada dalam perut pesawat. Senyaman apapun itu penerbangan itu. Mau cuaca bagus apalagi buruk. Mungkin sekarang sudah jam 9.30. Rencananya Garuda ini akan mendarat di Bandara Blangbintang sekitar 15 menit lagi. Dia memang mulai merendah di dekat pegunungan halimun Pidie. Di luar sana matahari bersinar kemilau memburamkan daratan di bawah. Tapi pegunungan dengan hutan lebat masih bisa kulihat. Membayangkan pesawat jatuh ke dalam hutan yang tak terjangkau itu begitu menyeramkan, karena gunungnya berlapis-lapis, dan begitu tebalnya kanopi pohon terlihat.

Aku mulai merasa tak enak ketika pesawat memiring tajam. Ini belum waktunya dia mengambil posisi mendarat. Aku mulai ketakutan. Ada apa? Dia mau mendarat darurat? Aku melihat suasana kabin untuk melihat tanda-tanda tak aman. Tapi pramugari masih sibuk melayani minuman tambahan untuk beberapa penumpang. Aku mengintip keluar lagi.

Aku meyakini diriku, pesawat berbelok arah. Kini posisiku berada di kiri arah ke Medan karena aku melihat pantai. Aku duduk di sit 23 A. Tidak begitu jelas lautannya karena semua putih. Lautan seperti penuh buih putih. Refleksi cahaya matahari pagi yang terik membuat tak jelas pemandangan di bawah. Aku tidak begitu tertarik melihat ke bawah lagi.

”Mengapa pesawat berbelok arah?” tanyaku pada penumpang di sebelahku. Dia lelaki muda. Tapi dia tak menjawab pertanyaanku. Aku gelisah. Celingak-celinguk mencari pramugari ingin menanyakan tentang hal ini. Aku sudah ketakutan. Jangan-jangan pesawat ini rusak. Atau mesin mati sebelah. Atau ekornya terbakar...dan segala macam hal yang mengerikan selalu aku bayangkan kalau di pesawat. Aku meminum berkali-kali sisa jus apel di gelas plastik untuk menenangkan pikiranku. Kotak kue yang dibagikan tak kusentuh sama sekali. Biasanya aku suka membawanya pulang untuk Suci dan Farah.

Aku coba cari orang yang aku kenal di pesawat ini. Ada Andi. Dia seorang perwira dari satuan Brimob Gegana, pasukan penjinak bom dari markas Mangga Dua Depok. Aku tadi melihatnya beserta keluarganya waktu transit di Polonia. Mereka ada sekitar 7 orang. Andi aku kenal tahun 2001, ketika dia bertugas sebagai aparat BKO di Banda Aceh. Aku masih menjadi wartawan Analisa waktu itu. Aku mengenalnya saat persidangan adhock di Banda Aceh terhadap pasukan tentara yang menembak mati Tgk Bantaqiah dan pengikutnya di Beutong Ateuh.

Andi tak jelas duduk dimana. Aku hanya melihat adiknya saja.

Tiba-tiba suara pilot terdengar dari speaker. ”Bapak dan Ibu yang terhormat. Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.” Deg...aku semakin pucat. Tuh kan benar ada yang tak beres.

”Kita harus kembali ke bandara Polonia di Medan. Ada gempa di Banda Aceh sehingga kita tidak bisa mendarat.” ucap sang Pilot lagi.

Ah, sit... Kenapa gempa, pesawat tidak bisa mendarat? Aku membayangkan landasan retak-retak. Dan pesawat akan goncang ketika mendarat kalau tiba-tiba datang gempa. Oh jadi maklum. Aku membayangkan lagi. Sebesar apa gempanya? Oh, rumahku, pasti piring berantakan. Atau tembok ruang tengah yang belum diplester jangan-jangan ambruk.

Aku menjadi sedikit lega. Artinya bukan pesawat yang rusak. Artinya aku akan selamat. Itu yang penting. Tapi gimana Banda Aceh? Oh biasanya gempa tidak parah. Dulu waktu aku kelas 2 SD tahun 1982 pernah ada gempa besar di Banda Aceh. Memang banyak bangun rusak. Tapi tidak parah sekali. Mungkin ibu sekarang sibuk beres-beres kalau ada yang berantakan di rumah.

Rumah sudah selesai direhab. Semua sudah komplit, termasuk aliran listrik sudah dipasang. Aku akan mulai pulang lagi ke Lamjame, ke rumah ayah yang baru kami renovasi. Kami baru memindahkan barang tanggal 2 Desember 2004. Dan 3 hari kemudian aku sudah berangkat ke Jakarta. Kamar mandi baru, dapur baru. Hmmm, sungguh menyenangkan membayangkan tinggal di rumah yang serba baru.

Aku sebenarnya akan pulang pada hari libur Natal kemarin. Karena aku harus cepat pulang mengurus mesin air di rumah yang belum sempat dibeli. Tapi aku kemudian membatalkan tiket hari itu, karena si Mpok, temanku di Jakarta mengajak aku jalan-jalan lagi setelah pada Jumatnya dia mengajakku ke Dufan bersama Meji, istri dan anak-anaknya. Mpok Rini PWI, adalah seorang perempuan menjelang senja yang begitu menyenangnya sebagai sahabat. Dia mantan wartawan Majalah Tempo. Meji adalah teman kami, seorang fotografer di Aceh yang bekerja untuk kantor berita Reuters. Kami diajak jalan-jalan melihat Dufan. Sebuah acara jalan-jalan yang membuat aku perang dingin dengan seseorang karena aku pulang larut malam.

Ibu sempat kirim sms kemarin sore. Dia katanya mau menginap di Lampulo, karena ada acara keluarga di salah satu rumah sanak famili. Semalam, waktu aku sedang di bajaj bersama Mpok menuju Kemang untuk makan malam, aku melihat ada panggilan telepon dari ibu di hp ku. Tapi sampai tadi subuh aku mau berangkat ke Cengkareng, aku tak sempat menelpon balik,. Atau malas menelpon tepatnya. Toh ntar jam 10 aku udah sampai di rumah. Aku udah pesan jauh hari, kalau aku pulang aku minta dibuatkan sambal udang pakai kentang kesukaanku. Aku tadi pagi terburu-buru ke Cengkareng karena sulit dapat taxi. Aku terpaksa minta pembantu kosan mencari taxi dekat Hotel Four Season dan akhirnya dapat naik Silverbird.

Akhirnya kami mendarat di Polonia sekitar setengah jam kemudian. Dari kasak kusuk orang-orang di bandara baru ketahuan tadi sebelum jam 8 ada gempa besar sekali terasa di Medan. Oh di Medan tidak banyak yang rusak. Berarti di Banda Aceh juga begitu. Itu pikiranku. Padahal sebelum jam 9 ketika transit di Polonia aku sempat lari-lari membeli kue lapis legit dan bika ambon, tak ku dengar cerita ada gempa barusan di Polonia. Mereka tenng-tenang saja.

Tapi ada kabar lain lagi. Air laut naik. Ada orang di Banda Aceh sempat telepon ke salah satu orang di bandara Polonia. Air laut sudah sampai ke Mejid Jamik Lamprit, depan RSU Zainal Abidin. Ya ampun. Bahkan katanya air dengan lumpur sampai ke bandara Balangbintang. Aku pun membayangkan landasan penuh lumpur kuning, makanya pesawat tak bisa mendarat.

Aku melihat dua perempuan mulai menangis. Mereka mengaku tinggal di Uleeleu, sebuah pemukiman dekat pantai. Nah, aku juga melihat Andi dan keluarganya bergerombolan. Aku menegurnya, dan dia masih kenal aku.

Andi ternyata lagi memboyong keluarganya karena beberapa hari lagi dia akan menikah dengan seorang Polwan di Punge. Oh, ya ampun. Aku melihat dia sibuk menelpon. Mungkin dia mencoba menelpon calon istrinya di Banda Aceh, tapi sepertinya tidak tersambung. Aku coba menelpon juga, tapi hp ku hanya mengeluarkan bunyi tulalit. Aku mencoba menelpon keluarga ku di Medan dan kenalanku di Jakarta. Tapi tak tersambung. Aku heran, Andi bisa menelpon.

Setelah ku tanya-tanya, semua nomor telkomsel area Banda Aceh eror. Sedangkan telkomsel luar Banda Aceh, bisa berfungsi di Medan ini.

Dalam kegelisahan, kebingungan, kesedihan, ketakutan, para penumpang masih berupaya menekan pihak Garuda untuk tetap menerbangkan penumpang ke Banda Aceh. Tapi mereka tidak memberikan jawaban pasti. Hanya bisa menunggu. Dua penumpang perempuan yang menangis tadi sepertinya berinisiatif melanjutkan perjalanan dengan bus, karena ku lihat ada mobil jemputan dari armada Pelangi menunggu di luar. Ini armada bus terkenal yang melayani trayek Banda Aceh-Medan lintas timur Aceh.

Aku melihat dua perempuan itu diwawancarai wartawan. Sudah ada beberapa wartawan tv di Polonia. Kami mencoba melihat berita di tv yang ada di bandara, tapi tidak ada informasi apapun.

Maka dengan berat hati kami mulai mengambil barang bagasi. Sambil mendaftarkan tiket untuk penerbangan yang tak jelas kepastiannya kapan.

Dan aku pulang ke rumah Kak Tuni, kakak sepupuku di Jalan Garu I. Aku menjerit memanggil dan dia keluar dengan hebohnya bercerita ada gempa. Aku menangis. Mengatakan aku takut ada terjadi apap-apa dengan keluarga di Banda Aceh.

Setelah membeli sebuah nomor simpati baru area Medan maka aku bisa menelpon kembali. Aku menelpon Joko, adikku yang tinggal di Balikpapan. Busyet..dia lagi enak-enakan kelonan sama istrinya di kamar dan tidak tahu ada gempa di Banda Aceh. Dia memang baru 3 bulan menikah dan kini istrinya lagi hamil muda.

Aku duduk di depan tv melihat Metro TV. Sudah ada informasi di berita berjalan...ada gempa di Banda Aceh. 10 ribu orang tewas. Masya Allah. Aku menjerit membayangkannya. Itu luar biasa. Siapa yang mati? Kenapa mati? Kenapa begitu banyak korban. Tidak pernah ada bencana di Aceh yang memakan korban demikian banyak. Aku membayangkan banyak gedung rubuh.

Aku menelpon Joko dengan menjerit-jerit histeris. Aku menyuruh dia membuka tv. Sontak dia pun histeris, menangis, padahal dia laki-laki. Aku meminta dia menghubungi Ayu, adikku nomor dua di Jepang. Siapa yang bisa menghubungi Ayu? Ohya ada Ryan, pacaranya di Jakarta. Joko akan menelpon Ryan agar menghubungi Ayu di Jepang.

Berita pertama secara jelas muncul di Metro TV pukul 12 siang. Ada gambar dari Lhokseumawe. Ada mayat anak-anak diletakkan berjejer di sebuah ruangan. Ada keluarga yang menjerit, ada gambar orang-orang yang berlarian. Ada gambar sebuah desa yang porak poranda penuh air, dimana petugas PMI mengangkat mayat. Ada seorang ibu memeluk anaknya sambil histeris ”Maya lon,”

Dan kami di rumah pun tak kuasa menahan tangis kami. Sudah jelas. Aceh sedang terkena bencana gempa. Ada banyak korban. Lantas bagaimana dengan ibu? Suci? Farah? Apa mereka kena bangunan yang runtuh? Ibu luka?

Dan berita tentang gempa di Aceh muncul di seantero tv.


27 Desember 2004

Aku berlari menuju tempat tiket pesawat di bandara Polonia. Baru setengah jam lalu aku berada di Perwakilan Garuda Medan, untuk menanyakan jadwal pesawat ke Banda Aceh. Dan segera aku diberitahu untuk ke Polonia untuk boarding karena ada pesawat jam 1 siang nanti.

Maka aku sempat menelpon Nuki, anak Kak Tuni untuk membawa barangku yang super banyak dengan naik taxi ke Polonia. Jadi aku tidak pulang lagi ke rumah.

Saat aku sibuk mengurus tiket ku, Ayu menelpon dari Jepang. Dan dia menangis-nangis. Memanggil-manggil nama ibu. ”Rini gimana ibu?” Dia membaca berita di internet, Banda Aceh tsunami. Ya...aku sudah mengetahuinya kemarin tepatnya sore dari berita di tv. Diperkirakan gempa besar kemarin pagi telah menimbulkan tsunami yang dasyat di Aceh. Seperti apa tsunami itu tidak pernah terbayangkan olehku.

Mungkin air laut naik. Sampai ke rumahku? Mungkin airnya pelan. Jadi rumahku mungkin banjir kemarin. Gimana barang-barang? Ijazah, laptop ku yang dalam lemari? Dan ya Allah, kucing-kucingku... Mereka mungkin naik ke atas loteng rumah atau manjat pohon ketika air datang. Itu harapanku.

Akhirnya sudah bisa dipastikan aku bisa pulang siang ini ke Banda Aceh. Aku melihat rekan-rekan penumpang Garuda kemarin yang batal berangkat sepertiku. Setelah barangku datang aku segera check in. Dan sudah pukul 11 siang aku duduk dengan gelisah di ruang tunggu. Aku menyapa Dani temannya Joko yang juga satu pesawat dengan ku sejak kemarin.

Kami mendengar cerita dari seorang bapak. Dia tadi pagi sampai ke Medan dengan menumpang pesawat Jatayu. Itu pesawat paling pagi masuk Banda Aceh dan kembali ke Medan membawa penumpang dari Banda Aceh termasuk si Bapak.

”Air laut sampai menghantam sisi dinding mesjid raya;” ceritanya. Kami terus bertanya, apa air lautnya tinggi. Tapi deskripsinya tidak membuat aku membayangkan semengeri kenyataannya.

Kami melihat gambar pertama dari Banda Aceh muncul di Metro TV pukul 12.00 laporan dari Najwa Shihab. Ada banyak mayat digotong ke lobi pendopo gubernur. Masya Allah. Aku menangis. Orang-orang di bandara bergerombolan di depan tv. Dan para perempuan seperti ku menangis. Kami mengkhawatirkan keluarga kami. Tak ada informasi jelas bagaimana keadaan di Banda Aceh. Tidak bisa menghubungi seorangpun di Aceh hingga saat ini.

Siang itu Garuda berangkat dengan pesawat Airbus. Tiga kali lebih besar dari pesawat regular yang kami tumpangi kemarin. Aku melihat temanku Maria, wartawan dari Asahi Sinbun beserta 2 teman Jepangnya. Mereka sudah biasa aku jumpai sejak liputan Milad GAM 1999. Dan banyak wartawan lainnya lagi.

Luar bias. Pesawat itu penuh. Kami duduk seperti masuk dalam bis. Tidak berlaku nomor kursi. Aku menangis lagi sejak masuk pesawat. Kekawatiranku kali ini memuncak tentang Ibu, Farah dan Suci. Sepertinya bencana ini tidak main-main. Kalau tidak mengapa demikian banyak orang mau masuk ke Aceh terutama wartawan. Di sebelahku duduk seorang bapak masih dengan pakai dinas dari PLN. Dia bilang ditugaskan untuk memulihkan aliran listrik sesegera mungkin diAceh.

Aku membaca yasin dan alfatihah berkali-kali. Hatiku mengatakan ibu dan adik-adikku mungkin tidak selamat. Mereka ada di Lampulo atau di Lamjame, di tempat yang memang benar-benar hancur luluh lantak oleh terjangan gelombang tsunami. Tangisku tak dapat ku bendung.

Akhirnya kami terbang juga menuju Banda Aceh. Ketika pesawat mulai merendah dan membelok dari atas laut Sabang kami melihat laut. Dan semua penumpang nekat bergerombolan dekat jendela pesawat. Pramugari tak dihiraukan meski berkali-kali meminta penumpang duduk dan memasang sabuk pengaman karena pesawat akan mendarat. Aku juga tidak peduli. Aku berdiri dari deretan kursi tengah menuju bangku sebelah kanan melihat ke luar jendela. Masya Allah, lautan penuh sampah seperti kayu dan segala macam tak jelas. Panjangnya bisa berkilometer memenuhi panjang pantai di dekat Banda Aceh. Dan itu, di bawah, aku tak melihat padatan atap rumah seperti biasanya. Tapi hanya tanah kosong hitam seperti penuh titik-titik putih tak jelas. Air masih menggenang di daratan.

Aku cepat-cepat kembali ke tempat duduk karena pramugari memberi peringatan lagi. Kami mendarat dengan kesedihan mendalam.

Selasa, 22 Desember 2009

When You Tell Me That You Love Me

Bagi yang lagi jatuh cinta, konon lagu ini membuat hati berbunga-bunga. Tapi apa benar kekuatan cinta seperti itu?

WHEN YOU TELL ME THAT YOU LOVE ME (Julio Iglesias and Dolly Parton)

I wanna feel this way
Longer than time
I wanna know your dreams
And make them mine

I wanna change the world
Only for you
All the impossible
I wanna do

I wanna hold you close
Under the rain
I wanna kiss your smile
And feel your pain
I know what�s beautiful
Looking at you
Here in a world of lies
You are the true

(Chorus)
And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I�ll make you safe no matter where you are
And bring you
Anything you ask for
Nothing is above me
I�m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

I wanna make you see
Just what I was
Show you the loneliness
And what it does
You walked into my life
To stop my tears
Everything�s easy now
I have you here

(Repeat Chorus)

In a world without you
I would always hunger
All I need is your love to make me stronger

artinya kira-kira gini ni :

meski bintang jatuh dari langit...aku masih tetep hidup n ga mau mati...
aku akan merubah dunia ini hanya untuk mu. meski itu hal yang mustahil....
aku pengen memeluk mu kuat di bawah guyuran hujan...akan ku ciumi senyummu...akan ku sembuhkan rasa sakit...aku tau betapa indahnya kamu...di dunia yang penuh kebohongan, kamulah kebenaran/kejujuran
sayang.....setiap saat kamu menyentuhku...aku akan jadi seorang pemberani...aku akan bikin kamu aman..kemana kamu pergi aku akan bisa bawa kamu pulang...apa pun yang kamu minta ga da yang ga bisa ku lakukan....aku akan seperti lilin yang menyala di dalam kegelapan...
ketika kamu menyatakan kamu cinta aku....
hidup di dunia tampa kamu aku akan menderita...yang aku butuhkan cuma cinta mu untuk kekuatan ku....

Rabu, 02 Desember 2009

Children in Heaven (2)

Sudahkah kita menyediakan tempat hidup yang baik di masa depan mereka ?


Dari sebuah jendela rumah di Rusip sebuah kampung menuju Samarkilang, Bener Meriah.


Ini layar tancap pertama yang kami tonton di kampung kami di Lokop Aceh Timur.


Membantu ibu mencari uang makan, mengangkat pasir dari sungai Samadua yang kering di Aceh Selatan


Kami sekolah untuk pintar, membangun Bulohseuma untuk masa depan.


Sore adalah hari menyenangkan buat kami bermain di kampung kami Aras Napal, Besitang, Sumatera Utara.


Aku bersama bapak dan mamak pulang dari kebun kami di Bintang, Aceh Tengah, naik sepeda motor tua kebanggaan kami.

Selasa, 01 Desember 2009

Children in Heaven (1)

Dalam setiap perjalanan tugasku, anak-anak adalah sebuah keindahan yang tak pernah terlewatkan untuk direkam. Wajah tanpa dosa, tulus, senyum ceria adalah warisan surga yang bisa ku lihat dari dekat.


Setiap hari sekolah, aku berjalan sejauh 2 kilometer dari rumah ku di kampung Kuta Padang menuju sekolah di Kampung Rakit, Bulohseuma. Sepatu harus dijinjing karena jalannya berada di rawa yang berair.


Hoiiii, rakit sudah oleng. Cepat pindah posisi agar stabil. (Menyeberang Sungai Bulohseuma)


Anak Gayo di Gumpang, Gayo Lues, hendak ke sawah membantu bapak dan mamak.


Brrrr... baru mandi di Sungai Agusan yang airnya sedingin es.


Hai, kami kakak adik dari Desa Teupin Tinggi, Trumon, Aceh Selatan.


Mandi kali rame-rame di Bakongan, Aceh Selatan.

Di Alas Mereka Menggantungkan Hidup




Sungai Alas mengalir jauh sepanjang 350 Kilometer, memulai nya dari aliran kecil air jernih di dalam rimbunan hutan Gunung Bipak, sekitar Keudah, Kawasan Simpang Jernih Kabupaten GayoLues, membelah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan melintasi ratusan desa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Alirannya berakhir di muara kota Singkil dengan air telah berubah menjadi coklat berlumpur. Sungai alas merupakan salah satu DAS terbesar di NAD. Melintasi 4 kabupaten yakni Gayo Lues, Aceh Tenggara, Subulussalam dan Singkil.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas merupakan kesatuan 18 sub das. Ratusan sungai kecil dan besar alirannya bermuara ke Alas. Di Gayo Lues dan Aceh Tenggara sungai utamanya disebut Lawe Alas, di Subulussalam sungainya bernama Lae Soraya dan di Singkil disebut Sungai Singkil. Ketiga sungai ini tersambung dan menjadi DAS utama dari Alas. Beberapa sungai masuk dalam DAS Alas. Di Gayo Lues ada Weh Agusan, Weh Blang Bebeke, Alur Barawing Suluh, dll. Di Aceh Tenggara ada Lawe Gurah, Lawe Ketambe, Lawe Kompas dan Lawe Serakut, dll. Di Subulussalam ada Lawe Bengkung, Lawe Singgersing, dan Lawe Bengkung.

Ribuan orang di sepanjang desa yang dilalui Sungai Alas menggantungkan kehidupan mereka dengan jasa-jasa ekologi dan ekonomi dari sungai yang tak ternilai. Pertanian di sepanjang wilayah ini saya bergantung pada sumber air dari Alas. Sungai ini memberikan berkah tak ternilai bagi para petani, nelayan ikan jurung, pemandu wisata arung jeram, hingga penyedia jasa transportasi air.

Alas sering menjadi sahabat masyarakat sekitar. Namun di waktu tertentu Alas begitu tak bersahabat. Kerusakan hutan yang terjadi di sekitar DAS Alas setiap tahunnya menyebabkan bencana banjir dan longsor yang merugikan masyarakat. Namun demikian Sungai Alas tetap menjadi anugrah dan rahmat Allah SWT yang terhingga bagi masyarakat di sekitar KEL.