Selasa, 01 Desember 2009

Di Alas Mereka Menggantungkan Hidup




Sungai Alas mengalir jauh sepanjang 350 Kilometer, memulai nya dari aliran kecil air jernih di dalam rimbunan hutan Gunung Bipak, sekitar Keudah, Kawasan Simpang Jernih Kabupaten GayoLues, membelah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan melintasi ratusan desa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Alirannya berakhir di muara kota Singkil dengan air telah berubah menjadi coklat berlumpur. Sungai alas merupakan salah satu DAS terbesar di NAD. Melintasi 4 kabupaten yakni Gayo Lues, Aceh Tenggara, Subulussalam dan Singkil.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas merupakan kesatuan 18 sub das. Ratusan sungai kecil dan besar alirannya bermuara ke Alas. Di Gayo Lues dan Aceh Tenggara sungai utamanya disebut Lawe Alas, di Subulussalam sungainya bernama Lae Soraya dan di Singkil disebut Sungai Singkil. Ketiga sungai ini tersambung dan menjadi DAS utama dari Alas. Beberapa sungai masuk dalam DAS Alas. Di Gayo Lues ada Weh Agusan, Weh Blang Bebeke, Alur Barawing Suluh, dll. Di Aceh Tenggara ada Lawe Gurah, Lawe Ketambe, Lawe Kompas dan Lawe Serakut, dll. Di Subulussalam ada Lawe Bengkung, Lawe Singgersing, dan Lawe Bengkung.

Ribuan orang di sepanjang desa yang dilalui Sungai Alas menggantungkan kehidupan mereka dengan jasa-jasa ekologi dan ekonomi dari sungai yang tak ternilai. Pertanian di sepanjang wilayah ini saya bergantung pada sumber air dari Alas. Sungai ini memberikan berkah tak ternilai bagi para petani, nelayan ikan jurung, pemandu wisata arung jeram, hingga penyedia jasa transportasi air.

Alas sering menjadi sahabat masyarakat sekitar. Namun di waktu tertentu Alas begitu tak bersahabat. Kerusakan hutan yang terjadi di sekitar DAS Alas setiap tahunnya menyebabkan bencana banjir dan longsor yang merugikan masyarakat. Namun demikian Sungai Alas tetap menjadi anugrah dan rahmat Allah SWT yang terhingga bagi masyarakat di sekitar KEL.

Tidak ada komentar: